PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FILSAFAT
PENGALAMAN
MENGENAL TOKOH FAVORIT FILSAFAT
(Oleh : Rasyid Ridho)
Pengalaman mengenal tokoh filsafat dapat
menjadi inspirasi bagi setiap individu. Faktor yang berperan dalam mempengaruhi
individu untuk mengenal tokoh favorit filsafat biasanya dimulai dengan corak
berfikir dari seorang filsuf (tokoh filsafat). Pemikiran, dialektis teori, dan
argumentasi para filsuf menjadi salah satu factor setiap individu menyukai
seorang tokoh filsafat. Pengalaman dalam berusaha mengenal tokoh filsuf bagi
saya, tertuju pada seorang filsuf muslim yang banyak melahirkan pemikiran luar
biasa mengenai Hikmah, atau dengan
kata lain kesempurnaan jiwa manusia melelaui pengetahuan terhadap realitas
segala sesuatu yang ada dan sebagaimana adanya. Pengalaman saya dalam mengenal Mulla Shadra tentu bukanlah
sesuatu yang amat mudah untuk memahami buah pemikiran tokoh filsuf muslim ini. Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazi atau yang kita kenal “Mulla Shadra” adalah seorang tokoh filsuf muslim yang
karya – karnya banyak dipelajari oleh kaum cendikiawan muslim dan non muslim di
seluruh dunia.
Usaha untuk memahami pemikiran Mulla Shadra
membutuhkan pemahaman yang mendalam terkait bagaimana dia memunculkan pemikiran
mengenail al-Hikmah
Muta’aliyah. Konsentrasi dan fokus pada kerangka
pemikiran Shadra adalah kunci untuk membuka pemahaman saya terhadap kerangka
berfikir shadra. Kesukaan saya terhadap pemikiran Mulla Shadra adalah karena
telah mengajarkan makna Hikhah
sebagai kesempurnaan jiwa manusia dalam memahami terhadap segala yang ada dan
sebagaimana adanya. Pengalaman atau proses pengenalan terhadap pemikiran Shadra
tidaklah bisa dicapai tanpa melakukan pendekatan secara kritis untuk mendeteksi
pemikiran – pemikiran filosofisnya. Bagi saya, pengalaman mengenal Shadra harus
melibatkan rutinitas baca yang sering dan dilakukan dengan mengetahui hal yang
mendasar. Misalnya, dengan terlebih dahulu
mengetahui biografi shadra, karya – karyanya, faktor yang mendorong
pemikiran filsuf shadra, dan jejak rekam kenapa Shadra memunculkan pemikiran
mengenai Al-Hikmah
Muta’aliyah. Catatan tersebut menjadi pengalaman bagi
saya dalam berusaha mengenal Mulla Shadra sebagai seorang tokoh filsuf muslim
yang saya sukai.
Disamping usaha
mengenal Shadra harus dengan melakukan pemahaman secara rutin, pengalaman
lainya adalah memotivasi diri agar mendahulukan untuk menyukai para filsuf
muslim dengan segala corak pemikiran dan karya – karya tulisnya. Dimana kita
tahu bahwa banyak tokoh filsuf barat yang tidak kalah hebatnya dengan para
tokoh filsuf muslim. Sebut saja Aristitoles, Plato, Socrates, dan lain
sebagainya. Mereka adalah para tokoh filsuf barat yang banyak disukai oleh para
cendikiawan muslim. Hal ini menurut saya akan mempengaruhi dan menggeser rasa
ingin tahu para cendikiawan muslim untuk mengenal terlebih dahulu buah
pemikiran para tokoh filsuf muslim. Maka salah satu cara untuk menyukai buah pemikiran para filsuf
muslim adalah dengan menghadirkan motivasi internal dalam setiap diri individu.
Pengalaman saya menyukai filsuf muslim (Mulla Shadra), tentu diawali dengan
rasa ingin tahu dan motivasi yang terus dihadirkan secara rutin. Hal tersebut
akan muncul seiring berjalanya rasa ingin tahu yang ada dalam setiap diri
individu. Memang ada banyak cara dan pengalaman berbeda bagi setiap individu
dalam berusaha mengenal tokoh favorit filsafatnya. Beda cara dan pengalaman, mungkin
saja beda hasil dan pemahaman dalam menemukan intisari tujuan atau maksud bagi
setiap individu. Memotivasi diri untuk mengetahui dan menciptakan pengalaman
untuk mengenal segala sesuatu, adalah kepastian yang akan dapat menghasilkan
sesuatu dalam mencapai tujuan – tujuan tertentu. Hal tersebut sama halnya
dengan pengalaman saya dalam berusaha mengenal Mulla Shadra sebagai seorang
filsuf muslim. saya tidak banyak mengenal dirinya, namun saya berusaha untuk
mengenali pemikiranya.
Perjalanan untuk
mengenal sosok Mulla Shadra tidak terlepas dari rangkaian proses belajar formal
dan non formal selama saya kuliah. Dalam kelas perkuliahan dan diskusi dengan
teman – teman sebaya adalah upaya untuk mengenal Shadra secara lebih baik dan
berkelanjutan. Motivasi untuk mengenal Shadra mulai terbangun saat saya kuliah
di semester lima, di jurusan Bimbingan
Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah Dan Adab Universitas Islam Negeri
Sulthan Maulana Hasanuddin Banten, (BKI FUDA UIN SMH BANTEN). Pada saat itu,
Dr. Mufti Ali, P.hd adalah seorang dosen mata kuliah Filsafat Islam yang banyak
bercerita tentang filsafat Mulla Shadra.
Kemahiranya dalam menceritakan dan menjelasakn tentang filsafat Mulla Shadra adalah titik awal motivasi itu terbangun
dalam diri saya untuk mengenal dan mempelajari filsafat Mulla Shadra. Sang
dosen memahami Filsafat mulla Shadra sebagai ujung tombak untuk mencapai
kesempurnaan jiwa bagi setiap inividu melalui pemikiranya yang kita kenal
dengan “Al-Hikmah
Muta’aliyah”. Pengalaman saya untuk merenungi “Al-Hikmah
Muta’aliyah” itu sangatlah sulit, membutuhkan daya nalar
yang luar biasa dan mengkorelasikanya dengan
penilain atas sikap, prilaku, pengetahuan, dan gaya hidup diri senidri.
Menurut apa yang saya fahami dalam usaha
untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui pemikiran filsafat Mulla Shadra adalah
dengan “ Mengetahui
apa yang kita tahu dan mengetahui
apa
yang kita tidak tahu,
mempolarisasikan hidup secara sederhana, mensyukuri atas apa yang tuhan
berikan, berusaha menemukan kebahagiaan hakiki dengan terus bermunajat kepada
Tuhan dan dengan memahami hikmah atas
segala ujian hidup yang Tuhan berikan ”.
Seorang kawan satu kelas saya bernama Muhaimin, adalah
bagian terpenting yang menghantarkan saya mengenal Mulla Shadra dengan berbagai
pemikiran – pemikiran filosofisnya. Teman satu kelas ini sering saya ajak
berdiskusi mengenai berbagai pemikiran filsafat Mulla Shadra. Dia memang
menyukai berbagai pengetahuan filsafat, satu pengalaman yang memberi manfaat
untuk saya mengenal tokoh filsafat (Mulla Shadra) adalah karena sering bertanya
dan melakukan diskusi di sela – sela
waktu luang saat diluar dari jam perkuliahan, atau pada saat bertemu ditempat
perkumpulan teman satu kelas, lebih tepatnya di gazebo Perpustakaan Kota Serang
- Banten. Obrolan santai mengenai filsafat Mulla Shadra dengan teman satu kelas
memberikan pengaruh yang cukup baik untuk mengenal Shadra sebagai seorang filsuf
muslim yang saya sukai. Pengalaman melalui obrolan santai itu membuat saya
tertarik untuk mengenal Shadra sebagai filsuf yang mampu memberikan corak
pemikiran berbeda dengan filsuf muslim lainya. Ketertarikan terhadap Shadra
setidaknya mengubah spirit belajar saya untuk mengenal filsafat sebagai sebuah
disiplin ilmu yang kaya akan ragam kebijaksaanaan dalam upaya untuk menggali
pengetahuan jauh lebih mendalam.
Proses mengenal Shadra memberikan sumbangan yang sangat
baik dalam melatih proses belajar untuk diri sendiri. Mengenali Shadra adalah
satu pengalaman spiritual yang berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia
sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Bagi saya, Shadra sudah memberikan reaksi atau
teladan yang dapat dijadikan pedoman bagi setiap individu untuk dapat mengenali
tuhan –NYA melalui peghayatan bathniyah sebagaimana yang terkonsepi dalam
pemikiranya “Al-Hikmah Muta’aliyah”. Pengalaman
mengenal tokoh filsafat muslim Mulla Shadra, akan terus menjadi bekal bagi
penulis untuk terus berupaya mengenal Mulla Shadra dari sisi yang berbeda dan
akan menambah pengalaman dalam lembaran kisah berikutnya.
Komentar
Posting Komentar