RESENSI FILM THE ALCHEMIST OF HAPPINESS



SINOPSI FILM
“THE THE ALCHEMIST OF HAPPINESS”
Oleh : Rasyid Ridho

Al – Ghazali adalah salah satu tokoh intelektual muslim dunia yang karnya banyak menarik perhatian kalangan ilmuan dan ulama di seluruh dunia. Kekaguman para cendikiawan muslim di timur tengah terhadap ratusan karya Imam Al – Ghazali menjadikanya ulama termasyhur dimasanya dan dimasa sekarang ini. Titik awal Al – Ghazali tertarik terhadap semua rumpun ilmu pengetahuan adalah ketika ayahnya meninggal dunia saat Al – Ghazali bersusia sekitar 9 – 10 tahun. Sebelum meninggal dunia, sang ayah menitipkan pesan kepada temanya yang juga seorang guru untuk mendampingi dan mengajarkan Al – Ghazali tentang semua ilmu pengetahuan. Terutama dasar – dasar ilmu Agama Islam. Dimasa kecil,  gurunya mulai melihat kemampuan Al – Ghazali dalam menekuni berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Bakatnya mulai terlihat saat Al – Ghazali mulai fasih membaca Al – Qur’an dan menghafalkanya.
Dalam film The Alchemist Of Happiness atau Kimia Kebahagiaan, menggambarkan perjalanan hidup Al – Ghazali yang penuh dengan semangat  untuk mendapatkan berbagai pengetahuan. Baginya, ilmu adalah sesuatu yang dapat mengubah kehidupanya agar lebih bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan mencapai kesempurnaan Makrifatullah. Kimia kebahagiaan adalah sebuah konsep penalaraan Al – Ghazali tentang pengetahuan makna hidup, pengetahuan mengenal tuhan, pengetahuan tentang akhirat, pengetahuan tentang dunia ini, cinta kepada Allah,  atau dengan istilah lain mengubah logam menjadi emas. Eseni yang palig penting dalam film The Alchimest Of Happiness adalah perjalanan spiritual Al – Ghazali menuju Makrifatullah.
The Alchemist Of Happiness juga menggambarkan manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung. Meskipun bukan merupakan bagian Yang Kekal, ia hidup selamanya; meski jasadnya rapuh dan membumi, ruhnya mulia dan bersifat ketuhanan. Ketika,dalam tempaan hidup zuhud, ia tersucikan dari nafsu jasmaniah, ia mencapai tingkat tertinggi; dan sebaliknya, dari menjadi budak nafsu angkara, ia memiliki sifat-sifat malaikat. Dengan mencapai tingkat ini, ia temukan surganya di dalam perenungan tentang Keindahan Abadi, dan tak lagi pada kenikmatan-kenikmatan badani. Kimia ruhaniah yang menghasilkan perubahan ini dalam dirinya, seperti kimia yang mengubah logam rendah menjadi emas, tak bisa dengan mudah ditemukan. Untuk menjelaskan kimia dan metode operasinya itulah maka Al – Ghazali menyusun sebuah karya yang diberi judul Kimia Kebahagiaan ini. Khazanah-khazanah Tuhan yang mengandung kimia ini, ada pada hati para nabi. Siapa saja yang mencarinya di tempat lain akan kecewa dan bangkrut di hari kemudian, yakni ketika ia mendengar firman: "... Telah Kami angkat tirai itu darimu, dan pandanganmu pada hari ini sangatlah tajam." (QS 50:22).
Allah telah mengutus ke dunia ini seratus duapuluh empat nabi untuk mengajar manusia tentang resep kimia ini, dan bagaimana cara mensucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah melalui tempaan zuhud. Kimia ini dapat secara ringkas diuraikan sebagai berpaling dari dunia untuk menghadap kepada Allah. Bagiannya ada empat. Pertama, pengetahuan tentang diri. Kedua, pengetahuan tentang Allah. Ketiga, pengetahuan tentang dunia ini sebagaimana adanya. Keempat, pengetahuan tentang akhirat sebagaimana adanya.
Film ini menjelajahi kehidupan dan pengaruh dari filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah Islam. Film ini meneliti krisis eksistensial iman Al-Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap  dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan jaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam (Bukti  Islam) dan jalan cinta. Keunggulan spiritualnya mengatasi perangkap dari  agama yang terorganisir pada zamannya. Jalannya sebagian besar  ditinggalkan oleh reformis muslim awal abad ke-20 yang lebih keras dan  kurang toleran, seperti madzhab Ibnu Taimiyah. Menggabungkan drama  dengan dokumenter, film ini berpendapat bahwa islamnya Al-Ghazali  adalah penawar untuk teror jaman ini. The Alchemist Of Happiness merupakan sebuah film documenter yang disutradai oleh Ovidio Salazar yang berasal dari California. Inti utama film ini adalah berdasarkan riwayat hidup nyata Imam Al-Ghazali  (1058-1111 M), yaitu seorang tokoh pemikir Islam yang sangat terkenal  sehingga namanya bergema-gema di ruang lingkup dunia Barat, terutama  yang melibatkan bidang filsafat dan epistemologi. Dalam dunia Islam  pula, rata-rata orang umum mengenalnya melalui kitab-kitab tasawufnya  seperti Ihya Ulumuddin dan Ayyuhal Walad al-Muahib (wahai Anakku  Sayang).
           Film ini mulai menjelaskan siapa Al-Ghazali melalui  T.J. Winter, Lecturer, Islamic Studies Cambridge University  di awal film. Ia menjelaskan bahwa Al-Ghazali umumnya dipandang sebagai satu dari 5 atau 6 pemikir paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Pengaruh tersebut hidup hingga kini, beliau memperlihatkan bahwa jantung keimanan dan setiap amalan Islam ada makna spiritual dan proses tobat, perbaikan dan hijrah (transformasi). Itulah sebabnya beliau disebut “Bukti Islam” (Hujjatul-Islam). Kimia Kebahagiaan adalah salah satu buku yang ditulis oleh Al-Ghazali dan inilah versi filmnya. Di dalam film ini digambarkan bagaimana beliau memaparkan  makna batiniah ritual Islam dan metode menuju pencerahannya. Sesi demi sesi film ini cukup membuka pikiran dan pandangan penonton. Selain bahasanya yang membutuhkan penafsiran dan analisis pikiran, terkandung filosofi makna-makna yang baik untuk dipahami. Tepat sekali untuk kamu yang ingin mendalami dasar dan tujuan kehidupan seorang manusia  di bumi ini. Kepastian, yang dalam film ini harus ditemukan terlebih dahulu dasarnya. Kodrat manusia dan keadaan dasarnya adalah kehampaan dan ketidaktahuan akan dunia gaib Tuhan. Manusia mendapatkan pengetahuan melalui organ duniawi yang setiap dari organ tersebut dianugerahkan kepada kita semua untuk memahami dunia makhluk. Ialah indra perabaan yang membantu kita merasakan kenyataan mengenai panas dan dingin, indra penglihatan, indra pendengaran, indra pengecap dan indra pembau. Lalu, berkembang menjadi lebih kompleks dari sekedar indrawi, manusia diberi nalar, untuk memahami hal-hal abstrak, mana yang logis dan tidak logis, mana yang mungkin dan mana yang mustahil, hingga kepada hal di luar jangkauan nalar, ghaib.

Ghazali dan adiknya ditinggal wafat oleh ayahnya , Shufi, saat masih kecil. Sekitar usia tujuh tahun. Selama ditinggal wafat, mereka dititipkan kepada teman terpercaya ayahnya, seorang wali shufi, seorang “Faqir”. Menariknya, di bagian ilustrasi ketika ayahnya wafat dan menyampaikan wasiatnya kepada guru, teman terpercaya untuk merawat ghazali dan adiknya, dipaparkan bahwa seorang guru itu lebih penting daripada seorang ayah biologis seseorang. Pada hal tersebut Ghazali ingin menekankan gagasan “keabadian Ilahiah”, tentang yang pasti datang, apa yang fana, dan apa yang abadi. Pada perjalanan abadi, seseorang membutuhkan guru untuk menuntun perjalanan melintasi dunia. Sedang ayah memberimu kehidupan untuk perjalanan duniawi, ia tak memberimu sarana untuk melintasi dunia ini. Manusia membutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuan. Di bagian ini, kita disadarkan bahwa pengetahuan tidak semata di dapatkan secara cuma-cuma, seperti searching di google, setelah ketemu selesai, tidak. Namun, kedalamannya ada pada dasar pengetahuan itu, tak banyak yang mengetahui, maka harus datang ke seorang atau sebuah sumber untuk mendapat kebenarannya.

Ghazali dikenal sebagai anak ajaib, beliau hafal teks standar di usia dini, dan menghabiskan seluruh peluang intelektual di kotanya, di awal remaja. Beliau menimba ilmu ke kota propinsi tetangga, Nisyapur di kelas Al-Juwaini. Sejak kecil ia haus akan ilmu, akan pemahaman mengenai kebenaran sesungguhnya segala hal. Selain itu, beliau juga memliki selera tak terpuaskan akan pengetahuan. Pengetahuan diserapnya berbasis konsep Islam “Tauhiid” melalui kerangka berpikir. Mencerna mengenai keesaan puncak Tuhan, dan bagaimana keesaan itu mewujud melalui keragaman di dunia, berbicara tentang hasrat mencapai akar dari masalah. Beliau menguasai, hafal, menghayati dan mengajarkan hal-hal tersebut di usia dini. Beliau menyaksikan beberapa hal seperti otoritas agama langsung dari kehidupan, kejadian yang sesungguhnya, seperti ia menyaksikan sendiri anak-anak Kristen selalu dibesarkan menjadi orang Kristen, anak-anak Yahudi menjadi Yahudi, dan Anak-anak muslim menjadi muslim. Ia juga mengaitkannya kepada hadist Rasulullah SAW. 

Ghazali mengamati bahwa beberapa faktor luar dari diri manusia membentuk berbagai pengamalan wahyu dan pengalaman beragama, yang pada intinya adalah keperiadaan Ilahiah. Ghazali menyoal tentang sifat alamiah manusia, fithrah, merujuk hadist Rasulullah SAW. Cinta Tuhan dan Ibadah kepada Tuhan, untuk itulah manusia diciptakan. Ibadah tertinggi adalah mengenal Tuhan. Keterkaitannya dengan fiitrah adalah, jika beribadah mengabdi kepada Tuhan bagi umat manusia berarti mengenal Tuhan, maka itu meniscayakan tak lain Tuhan mengaruniai manusia fitrah agar ia bisa mengenal Dia. Secara alamiah adalah pengenalan atas Yang Dikenal dan yang mengenali. Pengenalan Tuhan dan seorang hamba yang mengenalinya dengan segenap kesadaran. Tujuan diciptakan manusia sejak waktu diciptakan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGALAMAN MENGENAL FILSAFAT

PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FILSAFAT