PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FILSAFAT




PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FAVORIT FILSAFAT
“Mulla Shadra, Al-Hikmah Al-Muta’aliyah”.
(Oleh : Rasyid Ridho)
Tidak dapat diragukan lagi bahwa ada pemikiran filsafat yang tumbuh dalam islam: mempunyai banyak tokoh dan aliran problematika dan teori, di samping berbagai kekhususan dan keistimewaannya. Sebutlah Filsafat Islam, yang memiliki perbedaan dengan filsafat yang berkembang di Yunani. Perbedaan disini mengacu pada orisinalitas pemikiran yang berkembang dalam naungan Islam, sisi perbedaan ini bukan semata-mata menunjukkan pertentangan. Di awal abad ke 11 terjadi perubahan besar dalam substansi pengkajian dan sistimatika pembahasan konsep-konsep ketuhanan dalam filsafat Islam. Empat aliran filsafat seperti filsafat peripatetik, filsafat iluminasi, irfan teoritis dan teologi islam sebelum abad kesebelas bersifat mandiri, terpisah satu sama lain dan masing-masing berpijak pada teori dan gagasannya sendiri-sendiri, tapi di awal abad ke sebelas empat aliran tersebut berhasil dipadukan dan disatukan.
            Pemikiran tersebut dikembangkan oleh  Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazi atau yang kita kenal “Mulla Shadra” sehingga melahirkan satu aliran dan sistem filsafat baru yang dia sebut al-Hikmah Muta’aliyah (Filsafat Transendental). Menurut Shadra, kata hikmah itu sama dengan kata falsafah. Ketika Shadra menyebut kata hikmah, maksudnya adalah al-hikmah al-muta’aliyah. Makna al-muta’aliyah adalah kesempurnaan jiwa manusia melalui pengetahuan terhadap realitas segala sesuatu yang ada sebagaimana adanya, dan pembenaran terhadap kebenaran mereka, yang bangun berdasarkan bukti-bukti yang jelas, bukan atas dasar persangkaan dan sekadar mengikuti pendapat orang lain, sebatas kemampuan yang ada pada manusia. Sebagai sebuah aliran yang bersifat tradisional, aliran ini memiliki karakter lebih mementingkan kebenaran daripada orisinalitas, rasa memiliki terhadap dunia spiritual yang meliputinya, dan watak sintesisnya yang berusaha menyatukan berbagai aliran intelektual sebelumnya.
            Kinerja al-hikmah al-muta’aliyah ini memang menarik. Sebagai aliran filsafat, aspek penting yang selalu ada adalah proses penyelidikan. Penyelidikan dalam filsafat bukan sekedar penyelidikan, tetapi penyelidikan yang dilakukan secara menyeluruh dan mendalam terhadap kebenaran-kebenaran agama institusi intelektual dan harmonisasinya. Dari sinilah kemudian Shadra menciptakan persoalan-persoalan baru dan sekaligus menemukan pandangan-pandangan baru. Menemukan persoalan mungkin tidak sulit dilakukan, tetapi yang sulit adalah menemukan persoalan secara filosofis sekaligus menemukan jawabannya. Menurut Saya, model kerja Shadra ini tidak pernah bisa ditemukan melalui pemikiran semata-mata. Itulah sebabnya mengapa dalam al-hikmah al-muta’aliyah semangat filsafat diperbarui, dan sejumlah pembahasan baru ditambah.
            Kini, mari kita kembali pada asas-asas yang mendasari “Filsafat Tertinggi” Mulla Shadra yang bisa diduga sebagai ciri-ciri khas sistem tersebut. Urutan yang saya uraikan merupakan hasil dari pemahaman saya tentang sub-topik hikmah muta’aliyah.

Mengenal Prinsip-Prinsip Filsafat Hikmah Mulla Shadra
            Setiap paparan tentang filsafat hikmah pastilah diawali dari kata kuncinya:wujud. Sebuah ilustrasi ringkas tentang konsep ini dapat diuraikan sebagai berikut. Kita terbiasa menggunakan proposisi dalam percakapan kita yang subjeknya nomina (kata benda) dan predikatnya ajektiva (kata sifat) misalnya, kalimat “meja itu maujud (the table is existent)”. Menurut filsafat hikmah, proposisi yang dicoba dipahami dalam pengertian hubungan substansi-aksiden (subtance-accident) adalah tak bermakna. Dalam dunia realitas-luaran (the realm of axternal reality), pertama-tama, tidak ada subtansi mandiri (self subsistent) yang dapat disebut sebagai meja. Juga tidak ada “aksiden” sejati yang dapat disebut “eksistensi” yang datang (dari luar untuk berdiam) ke dalam substansi. Keseluruhan fenomena meja yang dikualifikasi sebagai “eksistensi” itu kemudian berubah menjadi sesuatu seperti gambar bayang-bayang, sesuatu yang tidak sepenuhnya ilusi, tetapi memiliki sifat-sifat seperti ilusi.
Akhirnya, pengetahuan ini, bagaimanapun, diperoleh tidak melalui penalaran rasional, tetapi melalui sejenis intuisi, yakni penyaksian batin (syuhud, inner witnessing), cita rasa (dzauq, tasting), pencerahan (isyraq, iluminasi), atau kehadiran (hudhur, presence). Karena sifat menghadir dari pengetahuan inilah yang sejalan dengan itu, disebut juga ilmu lewat kehadiran (al-‘ilm al-hudhuri)-mazhab ini dikenal juga sebagai semacam mistikisme. Maka, jadilah epistemologi tidak bisa dipisahkan dari ontologi.
Mengenal  Hakikat Kemendasaran Eksistensi (Ashalah al-Wujud)
            Maksud ashalah al-wujud dalam filsafat Mulla Shadra adalah bahwa setiap wujud kontingen (mumkin al-wujud) terdiri atas dua pola perwujudan: eksistensi dan esensi. Salah satu dari dua modus ini niscaya ada yang secara nyata menjadi wadah aktual bagi (kehadiran) efek-efek (pada realitas), sedangkan yang lain hanyalah “penampakan” (i’tibar) yang dipersepsi oleh benak manusia. Dari kedua modus itu, yang benar-benar hakiki secara mendasar adalah eksistensi, sedangkan kuiditas tidak lebih dari sebuah “penampakan” (appearance) belaka. Prinsipalitas eksistensi (ashalah al-wujud) sebagai lawan dari prinsipalitas kuiditas (ashalah al-mabiyah); kesatuan dalam keragaman (al-wahdah fi al-qatsrah); gradasi eksistensi (tasykik al-wujud) yang berasal dari eksistensi metafisik Mulla Shadra yang menjadi dasar filsafatnya.  Mulla Shadra mengatakan:
“saya biasanya mendukung mereka dengan kuat pada keyakinannya terhadap   
      prinsipalitas kuiditas sampai tiba saatnya Tuhanku membimbingku untuk
     mengatakan bahwa...kebalikannya yang benar.”
            Menurut Mulla Shadra, eksistensi mirip dengan sebuah lingkaran dimana ujungnya terletak pada pangkalnya. Lingkaran ini terbagi dua arah, satu yang turun dan lainnya naik yang masing-masing memiliki sejumlah tingkatan dan anak tangga.

Mengenal Kemanunggalan Wujud Mulla Shadra
            Kemanunggalanwujud termasuk topik yang memunculkan perbedaan pandangan yang ekstrem. Ada yang berpandangan bahwa manusia tidak lebih dari sesosok tubuh yang tidak berjiwa, ada pula yang meyakini sebaliknya (kesejatian jiwa), sebagian dari pemikir Eropa. Salah satu teori yang paling terkenal dalam masalah ini ialah teori dualisme yang berpendapat bahwa ruh dan tubuh mempunyai subtansi yang berbeda-beda. Plato berpandangan bahwa jiwa mewujud sebelum tubuh dan baru setelah tubuh mengemuka, jiwa bergabung dengannya. Aristoteles dan Ibn Sina berpendapat bahwa ruh dan tubuh tercipta secara serentak dan terwujud di satu waktu yang sama.
            Bertolak belakang dengan semua gagasan termaktub, filsafat Mulla Shadra berhasil memecahkan masalah ini dengan tuntas. Secara garis besar, setelah membuktikan bahwa gerak bersifat menyempurna dan substansial, dan bahwa wujudlah yang menjadi dasar segala sesuatu bukan esensi. Mulla Shadra menegaskan bahwa tubuh akan berubah menjadi ruh (murni) dalam proses penyempurnaannya. Dengan demikian, ruh bukanlah sesuatu selain dari keseluruhan tubuh itu sendiri. Ia bukan barang asing yang dikandung tubuh pada masa hidupnya dan menghilang pada waktu matinya. Mulla Shadra tidak melihat adanya pertentangan antara maujud fisik dan nonfisik. Sebaliknya, dia melihat keduanya sebagai dua tingkatan dari wujud yang tunggal, yakni tingkatan pertama minus dibanding dengan tingkatan kedua.
            Mulla Shadra menuturkan, “Boleh jadi sebelum ini, aku hanyalah sebiji gandum, lantas berubah menjadi diriku, dan kini aku adalah substansi yang tidak akan pernah punah.” Dengan demikian meteri tubuh yang berubah-ubah ini berganti menjadi wujud yang tetap sehingga tidak ada dualisme dan tidak ada penyatuan- melainkan yang terjadi semata-mata adalah penyempurnaan.
           
Mengenal Eksistensi Mental (al-Wujud al-Dzihni)
            Para filosof muslim terdahulu sebelum Mulla Shadra, memusatkan pembicaraan menganai itu pada realitas pengetahuan dan kesadaran manusia, dan tidak menyentuh persoalan kuiditas dan ketegori pengetahuan. Shadr al-Muta’allihin dalam istilah ini merupakan gagasan pengetahuan sebagai tiruan realitas atau pengulangan makna. Dalam benak bisa kita jumpai pada al-Syifa dan al-Isyarat wa al-Tanbihat karya Ibn Sina, meski dia tidak persis menggunakan istilah “Eksistensi Mental”. Menurut Perspektif para filosof Islam, nilai pengetahuan dan kesadaran manusia sepenuhnya bergantung pada pengertian gagasan eksistensi mental. Menolak eksistensi mental sama dengan menolak nilai pengetahuan dan kesadaran manusia secara mutlak. Untuk lebih terperinci, rujuk bagian Keempat dari Ushul Falasafeh wa Rawisy-e Realism (Prinsip-Prinsip dan Metode Filsafat Realisme) yang bertajuk Arzish-e Malumat (Nilai Diskusi Seputar Eksistensi Mental) mecakup tiga bagian inti:
1.      Paparan berbagai pendapat menyangkut eksistensi mental.
2.      Dalil-dalil para filosof untuk mendukung pandangan mereka ihwal masalah tersebut.
3.      Dan keberatan-keberatan yang telah diajukan untuk melawan pandangan para filosof dan jawaban-jawaban meraka atas keberatan-keberatan tersebut.

Gerakan Subtansial (al-Harakah al-Jauhariyyah)
            Para pengikut filsafat natural Aristoteles menerima bahwa gerakan ada pada kuantitas, kualitas, situasi, dan tempat, serta mengangap bahwa semua perubahan pada aksiden benda sebenarnya hanya ada satu perubahan dalam subtansi. Berdasarkan perinsip tersebut, Mulla Shadra mengatakan dengan sangat menarik sejumlah isu-isu filsafat seperti hubungan antara konstansi dan varian, pencipta alam semesta, pencipta jiwa, dan sebagainya.
            Para filosof meyakini bahwa salah satu pembagian primer atas maujud qua maujud adalah pembagiannya menjadi “yang berubah” dan “yang tak berubah”. Maujud “yang tak berubah” adalah maujud yang tidak melalui berbagai keadaan berbeda dan tidak mengalami perubahan. Sebaliknya maujud “yang berubah” adalah maujud yang berpindah dari satu keadaan ke keadaan lain.
            Shadr al-Muta’allihin telah mengajukan banyak bukti untuk gerakan substansial. Yang paling penting adalah pertama bukti kebergantungan aksiden pada substansi dalam keberubahan dan stabilitasnya. Bukti ini sesungguhnya didasarkan pada pengaruh-pengaruh substansi terhadap aksiden. Kedua didasarkan pada hubungan antara yang berubah dan yang tidak berubah serta pada kenyataannya berkaitan dengan penyebab-penyebab terjadinya substansi. Ketiga didasarkan pada waktu dan bahwa mustahil ada sesuatu yang berwaktu, tetapi tak-berubah. Bukti ini sebetulnya mengarah pada analisis mengenai hakikat wadah segenap hal. Keempat berkaitan dengan kodrat maujud-maujud material yang senantiasa berpindah-pindah dari potensi ke aksi dan sebaliknya. Bukti ini menyatakan kemustahilan penempuhan jarak dari potensi ke aksi secara seketika. Sebaliknya, kata Mulla Shadra, jarak antara aksi-potensi hanya bisa ditempuh secara bertahap dan berangsur-angsur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI FILM THE ALCHEMIST OF HAPPINESS

PENGALAMAN MENGENAL FILSAFAT

PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FILSAFAT