PENGALAMAN MENGENAL FILSAFAT
                                                        (Oleh : Rasyid Ridho)

Layaknya seseorang yang ingin mengetahui tentang sesuatu, dia berupaya untuk mengetahui sesuatu itu dengan segala cara dan upaya agar dapat mencapai rasa ingin tahunya. Dorongan untuk mengetahui segala sesuatu tentu melibatkan proses berfikir yang jauh lebih filosofis dan terencana. Filsafat sebagai sebuah rumpun ilmu memiliki makna mendalam yang berusaha menelusuri hakikat segala yang ada, Segala yang nampak, dan segala yang terlihat oleh kita sebagai insan yang berakal. Kita perlu mengetahui terlebih dahulu arti dasar  kata “Filsafat” sebagai dasar pengetahuan  bagi kita untuk  mengenal hakikat filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu. Secara umum, filsafat berasal dari kata “Fillow” yang berarti “cinta”, dan “Shopia” yang berarti “bijak” atau “kebijaksanaan”. Jadi filsafat secara terminologis adalah cinta “kebijaksanaan”, dalam arti semangat untuk mengetahui segala sesuatu dengan cinta (rasa ingin mengetahui) secara bijaksana.
Pengalaman mengenal filsafat bagi saya berawal dari rasa “keraguan dan keingintahuan” untuk mengetahui segala yang ada. Mengenal filsafat berarti mengenal tentang diri kita sebagai bagian dari kesemestaan galaksi. Sebab tuhan menciptakan segala yang ada di alam semesta ini bukan tanpa maksud dan tanpa tujuan. Semua yang tuhan ciptakan adalah benda yang memiliki nilai empirik (substansi), yang dapat dijadikan pengetahuan bagi siapapun yang memikirkanya. Pengalaman mengenali filsafat bagi saya adalah manifestasi pengetahuan tentang eksistensi segala yang ada dan mengapa kita harus ada. karena Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterusterang, seberapa jauh sebenarnya yang dicari telah kita jangkau.
Ada suatu cerita tentang seorang awam yang bertanya kepada seorang filsuf yang arif dan bijaksana. bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat : “Coba sebutkan kepada saya berapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya! “Filsuf itu menarik nafas panjang dan berpantun, “Ada orang yang tahu di tahunya,  ada orang yang tahu di tidak tahunya, ada orang yang tidak tahu di tahunya, dan ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya”.  orang awam itupun terdiam, lalu bertanya kembali, “Bagaimana caranya agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar?” sambung orang awam itu, penuh hasrat dalam ketidaktahuannya. “Mudah saja,” jawab filsuf itu, “ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu.”
Petikan kisah tersebut memberikan cerminan kepada kita bahwa, berfilsafat itu mengetahui segala sesuatu yang belum kita ketahui, mengetahui segala sesuatu yang sudah kita ketahui, dan menghindari ketidaktahuan atas ketidaktahuan yang tidak kita ketahui, (proses untuk mengetahui segala yang tidak kita ketahui). Mengetahui tentang apa yang saya ketahui adalah pengalaman berharga dalam berfilsafat. Melatih proses berfikir secara lebih kritis terhadap segala yang ada dan menjadikanya sebagai dorongan filosofis agar bisa berfikir jauh lebih rasional. Karena bagi saya setiap orang memiliki potensi untuk berfilsafat dan menjadi ahli filsafat. Setiap orang itu filsuf , tetapi tidak semua orang bisa menjadi ahli filsafat. Filsuf adalah mereka yang selalu menggunakan  daya nalarnya secara rasional dalam berbagai aktivitas atau interkasi keseharian, sedangkan ahli filsafat adalah mereka yang hafal dan dapat memahami (menguasai) teori – teori  para tokoh filsafat misalnya Muhammad iqbal, Al – kindi, aristoteles, socrates, dan lain – lain. Jadi jelas bagi saya semua orang berpotensi menjadi Filsuf, tetapi tidak semua orang berpotensi menjadi ahli filsafat.
Bagi saya berfilsafat dapat diumpamankan sebagai seorang yang berpijak di bumi dan menengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakekat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seseorang, yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendrii. Dia ingin melihat hakekat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya. Pengalaman saya mengenal filsafat sama saja dengan aktivitas berfikir seseorang dalam keseharianya. Apapun yang kita lakukan dalam keseharian ini tidak lepas dari aktivitas berfikir yang mendorong dan mendukung kegiatan keseharian kita. Orang yang berfikir dalam keseharianya, dapat dikatakan orang tersebut sedang berfilsafat (melaksanakan proses – proses berfikir untuk mendapatkan sesuatu). Karena itu, setiap orang memiliki pengalaman masing – masing dalam mengenal filsafat. Pengalaman mengenal filsafat bagi saya memiliki beberapa manfaat antara lain ;
1.      Memahami sesuatu secara filosofis
Tidak mudah memahami sesuatu secara mendalam, membutuhkan kekuatan berfikir yang lebih kritis dan menyeluruh. Pemahaman terhadap sesuatu harus dibarengi dengan ras ingin tahu yang tinggi dan rasa keraguan yang mendorong kepada kita untuk dapat memastikan sesuatu itu sendiri. hal tersebut akan lebih mudah tercapai ketika kita membiasakan diri untuk berfikir lebih  serius dan filosofis. Memahami sesuatu secara filosofis adalah ikhtiar setiap individu agar mendapatkan pengetahuan baru yang lebih mendalam atau spesifik. Saya memahami bahwa berfikir filosofis akan membentuk kepribadian seseorang lebih bijaksana dan tidak gampang menilai sesuatu. Sebab berfikir filosofis mendorong kepada setiap individu agar dapat menemukan makna lain dibalik sesuatu serta berusaha untuk menghadirkan pengetahuan – pengetahuan lain yang dapat diketemukan makna yang hakiki yang menyimpan ribuan makna pengetahuan lainya. Berfikir filosofis adalah kesadaran diri yang jauh lebih bermakna dan indah.
2.      Melatih Spekulasi
Sekarang saya sadar bahwa semua pengetahuan yang sekarang ada dimulai dengan spekulasi. Dari serangkaian spekulasi ini setiap individu dapat memilih buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan kriteria tentang apa yang disebut benar maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas dasar kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk, tidak mungkin kita berbicara tentang moral. Demikian juga tanpa wawasan tentang apa yang disebut indah atau jelek, tidak mungkin kita berbicara tentang kesenian. 
Kita mulai mengernyitkan kening dan timbul kecurigaan terhadap filsafat: bukankah spekulasi ini suatu dasar yang tidak bisa diandalkan? Dan seorang filsuf akan menjawab: “Memang, namun hal ini tidak bisa dihindarkan”. Menyusuri sebuah lingkungan kita harus mulai dari sebuah titik, bagaimanapun juga spekulatifnya. Yang penting adalah bahwa dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya, kita bisa memisahkan spekulasi mana yang dapat diandalkan dan mana yang tidak. Dan tugas utama filsafat adalah menetapkan dasar-dasar yang dapat diandalkan. Apakah yang disebut logis? Apakah yang disebut benar? Apakah yang disebut sahih? Apakah alam ini teratur atau kacau? Apakah hidup ini ada tujuannya atau absurd? Apakah hukum yang mengatur alam dan segenap kehidupan? . jadi bagi saya spekulasi adalah bagian terpenting dalam berfilsafat. Karena spekulasi dibutuhkan sebagai kerangka berfikir dalam menganalisis segala yang ada. Manfaat spekulasi bagi saya adalah dapat membantu tindakan atau proses berfikir yang jauh lebih terkontrol, tenang, dan terstruktur.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI FILM THE ALCHEMIST OF HAPPINESS

PENGALAMAN MENGENAL FILSAFAT

PENGALAMAN MENGENAL TOKOH FILSAFAT