Revolusi Paradigma
“Sebuah
modal berharga untuk kemajuan Bangsa”
Oleh
:
Rasyid Ridho (Mahasiswa BKI IAIN
BANTEN)
Karakteristik
dari bangsa ini adalah masyarakatnya yang heterogen. Heterogen yang saya maksud
bukan di konotasikan dalam arti yang sempit tetapi universal. Kompleksitas
corak kebudayaan masyarakat indonesia menjadi icon yang dikenal oleh masyarakat dunia. Dunia internasional
menempatkan indonesia sebagai negara ketiga terunik di dunia. Bukan itu saja
indonesia mendapat penghargaan sebagai negara dengan kultur kearifan lokal
terbanyak di dunia. Ini berdasrakan hasil survai COC (Comunity Of Cultural) tahun 2014 lalu. Modal untuk menjual
superioritas (Nama baik) negara ini medianya adalah ketersediaan keragaman
kultur masyarakatnya. Cukup mudah memang, tetapi ada banyak sisi yang tidak
dimiliki oleh indonesia tetapi dimiliki oleh negara-negara di dunia. Ini
menjadi tugas kita semua. Tugas yang harus di fikirkan secara objektif dan
terstruktur oleh tiap warga negara indonesia. Baik rakyat, pejabat, penguasa,
pemerintah, sampai dengan pengusaha. Ketika elemen- elemen itu bersatu, saling
percaya, mendukung, dan membangun kontrol kesepahamaan juga keselarasan maka
indonesia akan berada di ambang pintu kemajuan.
Revolusi
Paradigma adalah sebuah gagasan primitif yang mungkin tidak semua orang
bertindak tanpa mengunakan metode ini. Saya ingin mengajak kepada semua
saudara-saudara saya di indonesia untuk memahami apa yang saya sebut sebagai “Revolusi Paradigma” sebagai refleksi
cara pandang yang saya tuangkan dalam artikel ini. Secara umum, paradigma dalam disiplin ilmu intelektual
yang memiliki arti, cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkunganya yang
akan mempengaruhinya dalam berfikir (kognitif), bersikap (afektif) , dan
bertingkah laku (konatif). Paradigma juga berarti seperangkat asumsi, konsep,
nilai, dan praktek yang di terapkan dalam memandang realitas dalam sebuah
komunitas yang sama, khususnya, dalam displin intelektual. Kata paradigma
sendiri berasal dari abad pertengahan yang merupakan kata serapan dari bahasa
latin di tahun 1438 yang berarti model atau pola. Bahasa yunani paradeigma
(para + deiknunai) yang berarti untuk “membandingkan”, “bersebelahan” (para)
dan meperlihatkan (deik). Definsi secara umum seperti yang di sebutkan tadi
mendorong kepada kita untuk
mengeneralisasikan ma’na paradigma sebagai sebuah pola berfikir setiap
individu. Banyak hal yang sejatinya penting untuk di paradigmakan tetapi
sedikit hal yang menjadi objek untuk di paradigmakan oleh setiap orang.
Alasanya cukup variatif. Sebab, kita yang hidup di abad 21 ini selalu berfikir
tentang bagaimana mendapatkan sesuatu dengan cara yang cepat tanpa mendahulukan
strategi jitu yang akurat. Di era modernisasi seperti sekarang ini orang
tertarik untk mengikuti arus weternisasi dan cenderung mengabaikan potensi
sebagai alat untuk mempertahanan hidup personality. Potensi inilah yang hampir
tergerus dengan beragam faktor dan sebab – akibat yang pada akhirnya orang
tidak dapat mengontrol motivasi untuk meraih mimpi. Abad 21 yang banyak
dikatakan oleh para ahli sebagai fase kehidupan yang serba ada dan cangih menuntun kepada kita kejalan perubahan zaman. Dunia
seolah sudah diputarbalikan dengan ketajaman cara pandang masyrakat dunia yang
serba pasti dan tak mau ketingalan Tren
masa kini. Maka wajar masyarakat dunia khususnya indonesia, pada abad ini menjadi negara konsumtif dan
kurang produktif.
Produktifitas
setiap warga negara dapat di tumbuhkan dengan merubah cara pandang konsumtif
menjadi progresif. Progresifitas cara pandang individu sangan erat kaitanya
dengan kemauan ia untuk membandingkan alam khayal dengan alam faktual
(Kenyataan yang hakiki). Untuk mencapai itu semua di butuhkan Revolusi
Paradigma sebagai sebuah metode cara pandang universal atau komprehensif. Tidak
pantas kemudian indonesia dikatakan sebagai negeri yang hanya mengandalkan
sumber daya alam yang melimpah ruah tanpa disiapkan tenaga ahli yang
kompetitif dan dapat mendayagunakan itu
semua. Sekalipun demikian, indonesia masih menjadi negara ke-4 dengan jumlah
penduduk terbanyak di dunia. Indonesia sebagai negara yang memiliki 170 juta
jiwa lebih, 1.547 pulau, dan 13.300 budaya. Saya meyakini tak akan kehabisan
orang pintar di indonesia. Banyak ilmuan – ilmuan dunia yang terlahir di negri
ini. Banyak pula anak-anak bangsa yang
menorehkan catatan kebanggan untuk indonesia. Sebut saja Restu Prambudi salah satu siswa SMP Kebumen yang berhasil meraih
mendali emas pada ajang olimpiade matematika tingkat internasional di beizing
china pada tahun 2008, dengan kegeniusanya menghafal 250 nama orang dalam waktu
1,5 menit. Kemudian seorang mahsiswa universitas terbuka yang juga berhasil
meraih mendali emas tingkat internasional pada tahun 2015 dengan mengalahkan
135 peserta dari seluruh universitas ternama di dunia tentang debat Hukum Dan
Politik Dunia di oxsford University London inggris. Itulah sederet nama putra
putri terbaik indonesia yang telah menyumbangkan bakat dan kecerdasanya di mata
dunia internasional. Masih banyak prestasi –prestasi cemerlang yang berhasil di
ukir oleh putra – putri terbaik tanah air.
Setelah
saya amati, selain mereka di bekali dengan soft
skill dan basic skill yang
dimiliki , ternyata ada satu faktor lain yang mereka tempatkan yakni, “Revolusi Paradigma”, sebuah sudut
pandang seseorang tentang ketepatan cara berfikir, memandang realitas
kehidupan, prilaku, sikap, penyadaran, pemahaman, dan penghayatan tentang apa
dan harus bagaimana saya bertindak untuk bisa mengawali perubahan itu dapat
terjadi. Revolusi Paradigma mengajarkan kepada kita untuk cermat dalam
membandingkan sesuatu berdasrakan nilai ideal hasil dari analisis kita. Bukan
hanya itu, ROMA (Revolusi Paradigma), yang biasa saya sebut. Adalah titik
pangkal pemahaman seseorang terhadap
substansi objek. Kesesuain seseorang
dalam menempatkan pandangan cara berfikir terhadap realitas yang ia amati,
tidak terlepas dari kegelisahan dan penghayatan ia tentang gambaran “ ideal”
yang kemungkinanya sama dengan Gambaran “ideal” orang pada umumnya. Paradigma
dalam hal ini di tempatkan pada penilain seseorang mengenai “idealnya” sesuatu
itu sendiri. Sistemisasi yang
terintegral dan koheren dengan kebenaran publik jelas menjadi modal paling
fundamental akan pentingya spekulasi
seseorang mengenai sesuatu. Namu, sistemisasi yang harus koheran tadi mau tidak
mau harus di dasari dengan pengetahuan dan kualitas setiap individu dagar dapat
menjadi penyeimbang dalam melakukan cara pandang atau “Revolusi Paradigma”.
Banyak
hal yang perlu di siapkan untuk melatih kualitas diri kita baik pada aspek
sikomotorik, kognitif, afektif, bahkan
sampai kepada pengembangan mutu hubungan emosional seseorang terhadap orang
lain. Dalam literatur yang pernah saya baca tentang Etika
lingkungan Hidup, karya Sony Keraf menyebutkan “ manusia itu di sebut
sebagai mahluk Antroposentrisme sebuah
teori yang memandang manusia sebagai pusat sistem alam semesta ini. Dalam teori
ini manusi menempati urutan pertama dari mahluk – mahluk lainya. Artinya,
manusi di beri kebebasan untuk melakukan segala sesuatu tanpa melihat sebab
akibat dan resiko yang harus dia tangungg. Bisa di katakan teori ini sebagai
teori Bebas Nilai tanpa mengenal
batasan dan norma – norma sosial yang ada. Antroposentrisme juga menghendaki
manusia agar bebas menentukan kemaunyanya. Tidak terikat dengan etika normatif
yang menjadi larangan publik, tidak bisa menyelarasakan dengan kultur
masyarakat yang heterogen, dan berusaha untuk melakukan sesuatu dengan hanya
melihat hasil atau tujuanya tanpa memikirkan dan mempertimbangkan efek dari
prilakunya sendiri. Ketika kebebasan itu tidak di kontrol dan tidak melihat aspek sosiologis dan ekologis yang
ada, maka kebebasan yang melahirkan sifat serakah manusia akan terus membudaya,
menjalar, menurun dari generasi ke generasi , mendarah daging , serta akan
menjadi karakter yang terbentuk dengan sendirinya. Inilah antroposentrsime,
sebuah faham (Pandangan) sekelompok manusia yang melihat sesuatu hanya dari
satu sudut pandang. Contoh sederahana dari faham ini adalah, semakin banyaknya
orang yang melakukan tindakan perusakan lingkungan atas dasar pemenuhan
kebutuhan vinansial, kesejahteraan, produktifitas perusahaan, meningkatkan
pertumbuhan ekonomi makro dan lain – lain. Sayangnya orang yang menganut faham
demikian tidak mempertimbangkan dampak berkelanjutan bagi anak cucu kita
kedepan. Sehingga indonesia di bawah faham antroposentrsime tadi, lambat laun
akan menjadi bangsa yang senantiasa di
lihat oleh rakyatnya dari kacamata negaranya sendiri. Lagi – lagi kita harus
mengatakan “Revolusi Paradigma” berperan penting dalam hal ini.
Kemudian,
jati diri dari bangsa ini secara perlahan akan tergerus oleh corak berfikir
yang stagnan, ketika kita tidak mampuh mengubah cara pandang yang revolusioner. Memperbaiki arah pandang
setiap individu di negri ini tidak bisa hanya dengan mendengungkan, menyuarakan,
meneriakan, atau hanya sekedar
memberitakanya dari media masa. Secara garis besar mayoritas penduduk di
indonesia adalah islam. Keberagaman praktik dan tradisi ajaran (Agamaya) jelas berbeda. Tetapi ajaran
agama itu hanya menjadi formulasi yang jarang sekali di sesuaikan dengan pola
tingkah laku yang sama, artinya sesuai dengan norma dan kebaikan nilai
ajaranya. Agama dan pluralitas kebudayan lokal di indonesia telah menyumbangkan
pengaruh yang tidak sama. Pengaruh atau dogma tadi tidak sedikit menjadi
pedoman dan rujukan setiap kelompok masyarakat di indonesia dalam konteks
melakukan interaksi (hubungan) kehidupan sosial beragama. Tidak sedikit pula
dogma dari tradisi dan kepercayaan tadi menentukan pandangan hidup dan
pembentukan karakter setiap individu masyarakat indonesia. Nilai – nilai yang
di serap dan kemudian menjadi pemahaman setiap individu tadi kemudian
memunculkan “Paradigma” seseorang
tentang eksistensi sesuatu. Dari sinilah paradigma seseorang terbentuk
berdasarkan penghayatan seseorang dalam memahami sesuatu itu sendiri.
Kaitanya
dengan nilai- nilai religiusitas yang di fahami setiap orang di indoensia
ternyata tidak seimbang dengan praktik prilaku keseharinya. Ini bisa di
buktikan dengan “Gaya” orang beragama
di indonesia. Orang beragama pada umumnya mengetahui dan dapat membedakan
perihal baik dan buruknya sesuatu. Dia juga bisa menjelaskan tentang kekeliruan
tingkah laku. Contoh sederhananya adalah tidak meningalkan kewajiban –
kewajiban kecil seperti : Sedekah, menolong antar sesama, dan memelihara
lingkungan sebagai nilai kebersihan yang sangat di tekankan dalam islam. Rentetan contoh sederhana tadi peralahan
mulai tidak terkontrol oleh penganut agama di indonesia. Di semua tempat kini
orang mema’nai hal kecil itu sebagai hal yang tidak mempengaruhi hal – hal
besar. Secara filosofis, tidak akan ada hal yang besar kalau tidak di mulai
dengan hal – hal kecil. Dampak dari itu semua tidak lain adalah kerugian yang
mengakibatkan kehancuran cara pandang setiap indvidu. Di inggirs, orang yang
memakan sesuatu sampahnya mereka rawat dan mereka simpan dalam saku (kantong)
secara rutin. Tujuanya, agar tidak mengotori kota meraka dengan sampah
sedikitpun. Di spanyol orang yang selesai makan di restoran atau di tempat –
tempa umum sendoknya mereka bersihkan pada saat itu juga. Tujuanya agar
mengurangi beban kerja pencuci piring di restoran tersebut. Kita bandingkan di
indonesia, orang yang selesai memakan sesuatu entah apapun itu, sampahnya
mereka buang di tempat apapun dan dimanapun itu. Kebiasan ini sering terjadi
sejalan sejauh mata kita melihat. Kita bisa simpulkan kebiasan-kebiasan baik melakukan hal – hal kecil itu ternyata
lebih sering di lakukan oleh orang – orang nonmuslim di negara – negara
eropa, ketimbang di indonesia yang
mayoritas penduduknya muslim dan faham tentang ajaran – ajaran islam yang
mengatur hal – hal terkecil sampai ke hal – hal yang terbesar. Revolusi
Paradigma menjadi kunci untuk merubah kebiasan buruk menjadi baik bagi
masyarakat di seluruh indonesia.
Revolusi
Paradigma juga berperan sebagai pengikat kebudayan masayrakat indonesia yang
dulu di kenal sebagai bangsa yang santun dan murah senyum. dalam penelitian
yang di lakukan oleh Hatomo Nagasaki
seorang ilmuan ternama jepang pada tahun
2004 silam ia melakukan penelitian kurang lebih enam bulan lamanya di seluruh
wilayah di indonesia. Dari penelitian tersebut ia menemukan satu kultur
kebudayaan bangsa indonesia yang kemudian ia namakan dengan “ 3 karakter masyarakat indonesia yang tidak
dimilki oleh masyarakat dunia”. Pertama
: Indonesia adalah negara yang penduduknya paling santun di dunia. Di indoensia
gampang sekali orang memberikan sapaan senyum kepada orang ia kenal maupun
orang yang belum ia kenal. Tradisi ini berlangsung hingga puluhan tahun
lamanya. Berbeda dengan di jepang, orang jepang tidak mudah memberikan senyum
antar sesamanya apalagi kepada orang yang belum ia kenal. Kedua : orang indonesia adalah pribadi yang suka bergotong royong.
Soliditas antar sesama saudarnya dalam melakukan sesuatu adalah bentuk kepekaan
orang indonesia. Ini di wujudkan dalam segala aspek bentuk gotong royong apapun
di indonesia. Ketiga : Masyrakatnya yang gemar berjabat tangan. Setalah suka
menebar senyum dan bergotong royong, karakter orang indonesia di lengkapi
dengan kegemaran meraka berjabat tangan dengan siapaun dan kapanpun. Berjabat
tangan mudah untuk kita temukan di indonesia. Tujuan mereka berjabat tangan
kata hatomo adalah refleksi naluriah perasaan orang indoensia terhadap
siapapun. Dan itu menjadi ciri khas kepribadian dari bangsa ini. Hatomo
Nagasaki dalam tulisan artikelnya mengatakan “Indonesia sebagai negri teramah di dunia”.
Dari
ketiga tipikal orang indonesia seperti yang di sebut hatomo nagasaki adalah
kebudayan alamiyah yang berlangsung secara turun temurun sekaligus memiliki
esensi sejarah peradaban dan kebudayaan masyarakat indonesia. Seiring
berjalanya waktu, keragaman /ciri khas orang indonesia tadi kian lama kian
tergerus oleh arus modernisasi yang tak terbendung. Tidak banyak memang
masyarakat kita yang lupa akan ciri khas karakternya. Tetapi secara keseluruhan
hampir 75 persen masyarakat indonesia sudah tak terbiasa lagi dengan keramahan
dan keunikan karakternya sendiri. Di kota – kota, di desa, bahkan di tempat –
tempat umum sekalipun kita munkgin sudah jarang melihat orang lain menyapa dan
berjabat tangan antar sesamanya. Padahal ini budaya kita, budaya orang
indonesia yang mendunia. Budaya yang seharusnya terpelihara dan terjamin hingga
akhir masa. Sekalipun kebudayan kita mengalami degradasi hambatan untuk tetap
berjalan secara dinamis. Masih ada waktu kiranya untuk menyadarkan manusia
indonesia agar kembali berfikir dan berusaha merubah tatanan pola fikirnya
kearah yang lebih dinamis dan moderat.
Kita pantas menyadari bahwa hal ini jangan sampai terus menerus terjadi. Jika
tidak, warisan dari para leluhur kita yang berhasil membentuk kepribadian orang
indonesia sebagai bangsa yang santun dan ramah itu akan hilang di telan zaman.
Maka oleh karena itu, untuk mempertahankan kepribadian bangsa ini setidaknya
ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan penempatan revolusi paradigma
sebagai cara berfikir yang produktif.
Pertama : Revolusi Paradigma sebagai kerangka berfikir
Objektif. Tahapan pertama yang saya gagas adalah
bagaimana setiap individu mampuh melakukan penalaran secara objektif tentang
pemahaman mereka terhadap keseimbangan sesuatu. Pola berfikir secara objektif
tentu tidak mudah di lakukan oleh setiap orang. Sebab, membutuhkan pengamatan
serius berdasarkan ilmu pengetahuan yang berkaitan antara satu dengan yang
lainya. Kerangka berfikir semacam ini dalam ilmu logika di sebut dengan “Menghindari kerangka kesalahan dalam
berfikir, atau Falasi”. Falasi adalah rangkaian pemikiran seseorang yang
tidak tepat dan melahirkan kekeliruan terhadap objek yang di perdebatkan. Ini
banyak terjadi pada forum – forum debat seperti yang di tayangkan di berbagai
televisi di indonesia. Terkadang Orang memperdebatkan sesuatu tanpa memahami
terlebih dahulu bobot permasalahanya. Tidak siap untuk menjelaskan, akibat
kurangya literatur yang menjadi bahan bacaan atau analisisnya.
Kedua :
Revolusi Paradigma Sebagai Arena penyambung
hati dan rasionalitas. Korelasi antar akal dan hati menjadi amat penting
bagi seseorang untuk dapat menarik kesimpulan yang sejajar atau relavan.
Indonesia membutuhkan karakter setiap warganya yang dapat menyesuaikan antara
penalaran rasionalitas dengan penghayatan hati. Ini di maksdukan untuk melihat
indonesia dari berbagai sudut pandang. Bukan hanya mengkaji indonesia pada
tataran aspek mentalnya tetapi juga dari kerangka berfikir progresif tiap
warganya. Sehingga dalam hal ini penghayatan hati dan rasionalitas dapat
berjalan sesuai dengan harapan dan kenyatan. Jamaluddin al-afghani sebagai
seorang bapak pembahu islam modern mengatakan “Islam mengalami kemunduran pada
1789 M, di sebabkan karena umat islam tidak bisa menyesuaikan agama dengan perubahan
zaman. Sebetulnya, islam adalah agama yang sesuai dengan semua orang, semua
bangsa, dan semua zaman. Sayangnya umat islam tidak bisa menyesuaikan dengan
perubahan zaman pada saat itu dan umat islam berada di fase keterpurukan dan
tidak dapat bangkit untuk mengembalikan kejayaan islam seperti pada zaman
dinasti bani Abasiyah. akal dalam hal
ini sebagai fungsionaris kehidupan setiap individu tidak dapat menerima
terhadap perubahan tatanan kehidupan yang serba kompleks dan modern”. Ungkapan Jamaluddin Al-Afghani tadi
tidak seaharusunya masih terjadi di kalangan umat islam indonesia yang hidup di
era transisi demokrasi seperti sekrang.
Ketiga :
Revolusi Paradigma sebagai Pelengkap
Revolusi Mental. Revolusi mental yang menjadi jargon presiden jokowi saat kampanye pada pilpres tahun 2014 yang lalu. Kini belum bisa
di rasakan oleh masyarakat indonesia secara keseluruhan. Perubahan – perubahan
karakter, mental, kepribadian masyarakat indonesia masih jauh dari harapan seperti
yang tertuang dalam esensi revolusi mental Ala
jokowi. Bukan hanya saja mental yang harus di revolusi tetapi paradigmapun
menjadi prioritas unggulan yang tidak kalah penting untuk di revolusi. Mental
yang kuat menghantarkan kepada kita menuju panggung kompetisi apapun , serta
orientasi berfikir yang gamblang dan terbuka menghantar kepada kita dalam
melakoni persaingan itu sendiri. sehingga mental dan paradigma yang di
reovolusi, menjadi amat kunci dalam meraih keinginan dan mimpi masyarakat
indonesia. Disinilah kita bisa
mengaitkan revolusi mental dan revolusi paradigma. Keduanya memiliki korelasi
yang saling melengkapi dalam membentuk karakter dan cara pandang masyarakat
indonesia. Letak revolusi paradigma sesungguhnya berada dalam kesadaran setiap
individu. Bagaimana kemudian ia bisa melakoni sekenario hidup dengan
menempatkan mental dan paradigma sebagai bekal untuk mewujudkan cita – cita
bangsa indonesia. Kualitas jati diri bangsa dapat di ukur dari potensi sumber
daya manusianya yang kompetitif yang memiliki daya saing sejajar dengan bangsa
– bangsa di dunia.
Kategorisasi
negara maju menurut cokrominoto dalam bukunya Menjadi Indonesia halaman 123 – 135 di jelaskan. Negara akan mampuh
mengexploitasi SDMnya di pangung persaingan dunia ketika negara menyediakan
ssitem pendidikan yang memadukan antara pendidikan tradisional (Kearifan lokal)
dengan pendidikan modern. Fungsi dari keduanya sebagai pengikat orang – orang
pintar indonesia agar tetap mengakui negaranya sebagai negara yang menjadi
mesin pencetak tokoh – tokoh intelektual muda. Tidak jarang orang – orang
jenius di indonesia terlempar dari negaranya sendiri dan mengabdikan dirinya
untuk mendorong kemajuan negara lain. Kerap kali indonesia kehilangan putra –
putri terbaik negaranya. Sebab, negara kurang memperhatikan dan kurang bisa
menjamin kelangsungan hidup para cendikawan muda tanah air. Saatnya indonesia
bangkit dari keterpurukan, tidak menutup diri, dan mempertegas visi misi
indonesia seperti yan g tertuang dalam Undang – Undang 1945.
Kempat
: Revolusi Paradigma sebagai
Pemicu Pemersatu Bangsa. Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI
adalah hasil jerih payang para funding
father kita dalam mempersembahkan kemerdekaan untuk seluruh rakyat
indonesia. Kita mengetahui, indonesia adalah negri yang pernah di jajah hampir
350 tahun lamanya. Kekuatan negri ini pada masa kemerdekaan telah berhasil
melahirkan pejuang – pejuang yang merelakan segenap jiwa dan raganya untuk
memerdekakan diri dari cengkaraman tangan penjajah. Banyak catatan sejarah yang
berbicara tentang kegigihan para pendiri bangsa kita. Dalam konteks revolusi
paradigma sebagai pemersatu bangsa, adalah bagaiamana indonesia diposisikan
sebagai negara yang dapat menghimpun keragaman kultural dan keunikan
penduduknya. Untuk memperkokoh persatuan itu di butuhkan persamaan persepsi
untuk membangun indonesia yang lebih berdaulat dan maju. Kemajuan indonesia
salah satunya dapat terwujud dengan membangun
kesepahaman pemikiran antar suku, ras, agama, kelompok sosial dan
masyarakat secara umum. Revolusi paradigma bermaksud menyamakan persepsi setiap
individu bangsa indonesia. Sehinga Persatuan tadi menjelma sebagai kekuatan
besar yang mampuh menghimpun perbedaan yang sering terjadi di tengah – tengah
masyarakat indonesia.
Kelima
: Revolusi Paradigma Sebagai Dimensi Kreatif
Anak Muda. Kaum muda di gambarkan oleh soekrano sebagai ujung tombak
pembangunan bangsa. Pemuda indonesia tidak kalah hebatnya dengan pemuda –
pemuda di dunia. Bangsa ini merdeka salah satunya atas jasa para pemuda kita.
Saya mema’nai pemuda sebagai sekumpulan orang – orang yang di takdirkan untuk
berada di tengah – tengah orang tua. Dia sebagai jembatan untuk meraih masa
depan bangsa yang lebih baik. Berfikir kritis dan sering kali memunculkan ide –
ide kreatif dalam mendorong kemajuan bangsa ini. Langkah anak muda selalu
menginspirasi orang di seluruh dunia. Bukan tidak mungkin, pemuda indonesia
menjadi percontohan pemuda terbaik dunia. Dengan segala keahlian dan gagasan
kreatifnya. Sekali lagi Revolusi Paradigma mendorong pemuda – pemuda indoesia
agar berani menentukan sikap dan ikut serta dalam menyongsong masa depan
indonesia. Pemuda memilki sepak terjang dan pengaruh yang besar manakala di
buktikan dengan tindakan nyata dan kegigihan meraih mimpi. Masa depan pemuda
tidak di tetukan dengan masa lalu yang
sering di ingat, di sesali, di ratapi, bahkan di tangisi. Sebab, masa lalu
adalah rentetan cerita yang menjadi sejarah dan tidak mungkin terulang. Masa lalu, masa sekarang, dan masa
depan pemuda indonesia adalah masa dinama kita harus bisa mengisi kekosongan
kemerdekaan ini dengan segala bentuk kreatifitas, inovasi, cara berfikir yang kritis,progresif serta
dinamis. Sehingga para pemudia di indonesia akan mampuh mengunguli generasi
pemuda terdahulu. Kita mesti yakin bahwa, generasi baru akan mengalahkan
generasi terdahulu. Majulah pemudia indonesia, kibarkan bendera gerakan revolusi paradigma untuk indonesia.
Itulah
lima pilar dasar mengapa revolusi paradigma menjadi penting untuk diketahui
oleh seluruh elemen masyarakat indonesia. Revolusi paradigma harus membangun
hubungan yang harmonis dengan revolusi mental. Keduanya akan mengaitkan sesuatu
dengan sesuatu, Antara yang satu dengan yang lainya, antara yang ideal dengan
yang tidak ideal, antara rekayasa dan kenyatan. Dan pada akhirnya dapat saling
melengkapi dan saling mengisi. Revolusi paradigma adalah perantara menuju
revolusi mental. Perantara yang menjadi penyambung sekaligus pendorong untuk
meraih kemajuan indonesia.
Artikel
ini saya persembahkan untuk kawan – kawan di jurusan bimbingan konseling Islam
(BKI IAIN SMH “BANTEN”), sebagai penyemangat dalam menyelesaikan artikel ini.
Mereka adalah teman diskusi yang amat serius dalam mengkaji sesuatu. Lahirnya
gagasan Revolusi Paradigma ini adalah hasil dari serangkain kajian mingguan
yang sering kita lakukan di ruang rekonstruksi pemikiran tempat dimamana kita
berdialektika. Semoga bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran / gagasan
kerangka berfikir kreatif, untuk kemajuan indonesia di mata dunia.
Komentar
Posting Komentar